OPINI - Setiap Agustus, bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, sekolah, perkantoran, dan jalan-jalan. Anak-anak mengikuti lomba makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, serta panjat pinang. Para pelajar berdiri dalam upacara, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mendengarkan pembacaan teks Proklamasi.
Semua itu penting. Upacara mengajarkan penghormatan terhadap perjuangan, sedangkan perlombaan membangun kegembiraan dan kebersamaan. Namun, setelah bendera diturunkan, panggung dibongkar, dan hadiah dibagikan, pertanyaan yang lebih mendasar harus diajukan: apa makna merdeka bagi generasi muda hari ini?
Apakah seorang anak muda dapat disebut merdeka ketika ia bebas memilih dalam pemilu, tetapi sulit memperoleh pendidikan bermutu? Apakah ia benar-benar merdeka ketika memiliki telepon pintar, tetapi hanya menjadi konsumen teknologi? Apakah kemerdekaan telah sempurna apabila ia bebas berbicara, tetapi menghadapi intimidasi ketika mengkritik?
Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa 17 Agustus 1945. Kemerdekaan adalah keadaan ketika setiap warga memiliki kesempatan yang adil untuk belajar, bekerja, berbicara, berkarya, hidup aman, dan menentukan masa depannya.
Upacara mengingatkan kita kepada mereka yang telah berkorban. Kehidupan sehari-hari menentukan apakah pengorbanan itu benar-benar diteruskan.
Generasi Muda sebagai Pemilik Masa Depan
Generasi muda bukan kelompok kecil yang hanya menjadi pelengkap pembangunan. Menurut Statistik Pemuda 2025, jumlah penduduk berusia 16–30 tahun mencapai sekitar 66, 83 juta jiwa atau 23, 50 persen dari keseluruhan penduduk.
Besarnya jumlah tersebut merupakan kekuatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Pada Pemilu 2024, Komisi Pemilihan Umum menyebut sekitar 55 persen pemilih berasal dari Generasi Z dan milenial.
Artinya, generasi muda memiliki kemampuan menentukan siapa yang menjadi presiden, kepala daerah, anggota parlemen, dan wakil rakyat. Mereka tidak boleh hanya menjadi sasaran kampanye, pembuat konten, relawan, atau pengumpul massa.
Namun, memiliki hak suara belum otomatis berarti memiliki kekuasaan. Generasi muda harus mengetahui bagaimana anggaran disusun, undang-undang dibentuk, kebijakan ditetapkan, dan pejabat dimintai pertanggungjawaban.
Kemerdekaan politik harus membuat generasi muda mampu memengaruhi keputusan setelah pemilu, bukan hanya memberikan suara ketika pemilu berlangsung.
Mereka bukan sekadar pewaris republik. Mereka adalah pemilik republik yang memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk menjaga masa depannya.
Merdeka dari Kebodohan
Para pendiri bangsa memahami bahwa kemerdekaan tidak akan bertahan tanpa pendidikan. Karena itu, mencerdaskan kehidupan bangsa ditempatkan sebagai salah satu tujuan negara.
Bagi generasi muda, merdeka berarti memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa dibatasi kemiskinan, wilayah, jenis kelamin, kondisi disabilitas, agama, atau latar belakang keluarga.
Sekolah tidak boleh hanya tersedia secara administratif. Pendidikan harus membuat murid mampu membaca secara kritis, menggunakan pengetahuan, memecahkan masalah, bekerja sama, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Hasil PISA 2022 yang diterbitkan OECD menunjukkan murid berusia 15 tahun di Indonesia memperoleh skor rata-rata 366 dalam matematika, 359 dalam membaca, dan 383 dalam sains. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD.
PISA bukan satu-satunya ukuran pendidikan. Namun, data tersebut memberi peringatan bahwa kemerdekaan dari kebodohan belum selesai diperjuangkan.
Generasi muda tidak cukup hanya memiliki ijazah. Mereka membutuhkan kemampuan membaca persoalan, memeriksa informasi, menggunakan teknologi, berkomunikasi, mencipta, dan belajar sepanjang hayat.
Negara harus memastikan tidak ada anak yang kehilangan masa depan karena sekolahnya tidak memiliki guru, internet, buku, laboratorium, sanitasi, dan fasilitas yang memadai. Perguruan tinggi juga harus tetap dapat dijangkau oleh keluarga berpenghasilan rendah.
Merdeka dari kebodohan berarti pengetahuan tidak menjadi hak istimewa kelompok kaya.
Merdeka untuk Memperoleh Pekerjaan Layak
Kemerdekaan juga harus hadir dalam kehidupan ekonomi. Anak muda membutuhkan kesempatan bekerja, berusaha, memiliki tempat tinggal, membangun keluarga, dan merencanakan masa depan.
Namun, memasuki dunia kerja masih menjadi tantangan besar. Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka penduduk usia 15–24 tahun mencapai 17, 37 persen pada Mei 2026. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok umur lainnya.
Data itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum selalu menghasilkan jalan masuk yang mudah bagi generasi muda. Banyak lulusan menghadapi ketidaksesuaian keterampilan, minimnya pengalaman, upah rendah, status kerja tidak pasti, dan persaingan yang ketat.
Ada pula anak muda yang bekerja sebagai mitra platform tanpa kepastian penghasilan, jaminan sosial, perlindungan kecelakaan, atau posisi tawar yang seimbang. Mereka disebut fleksibel, tetapi seluruh risiko dipindahkan kepada pekerja.
Kemerdekaan ekonomi tidak berarti setiap orang harus menjadi pegawai pemerintah atau perusahaan besar. Generasi muda harus memiliki kesempatan menjadi petani modern, pekerja profesional, seniman, peneliti, pengusaha, teknisi, jurnalis, pengembang teknologi, dan pelaku industri kreatif.
Negara harus menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri. Pelatihan tidak boleh hanya menghasilkan sertifikat, tetapi harus meningkatkan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan.
Perusahaan harus membuka kesempatan kerja pertama yang adil. Persyaratan pengalaman bertahun-tahun untuk pekerjaan tingkat awal justru menutup pintu bagi lulusan baru. Program magang juga tidak boleh digunakan sebagai cara memperoleh tenaga kerja murah tanpa proses pembelajaran.
Kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi membuat generasi muda bebas memilih, tetapi tidak bebas menentukan masa depannya.
Merdeka di Era Digital
Generasi muda saat ini hidup di ruang digital. Berdasarkan Statistik Pemuda 2025, sekitar 96, 69 persen pemuda telah menggunakan internet dalam tiga bulan terakhir.
Angka tersebut merupakan modal besar. Internet memberikan akses kepada pengetahuan, pasar, pekerjaan, pendidikan, komunikasi, dan organisasi sosial. Anak muda dapat menghasilkan karya serta menjangkau dunia tanpa meninggalkan daerahnya.
Namun, keterhubungan tidak selalu berarti kemerdekaan. Sebagian besar teknologi, platform, perangkat, pusat data, dan kecerdasan buatan masih dikuasai perusahaan besar dari luar negeri. Pengguna menyumbangkan waktu, perhatian, karya, dan data, sedangkan keuntungan terbesar dinikmati pemilik platform.
Generasi muda harus bergerak dari pengguna menjadi pencipta. Mereka perlu membangun aplikasi, sistem kecerdasan buatan, perangkat elektronik, permainan, teknologi energi, teknologi pertanian, keamanan siber, dan industri kreatif.
Kemandirian digital juga berarti mampu melindungi data pribadi. Anak muda harus memahami bahwa setiap pencarian, lokasi, transaksi, pertemanan, dan kebiasaan dapat dikumpulkan serta digunakan untuk memengaruhi perilaku.
Merdeka di ruang digital berarti mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak algoritma, disinformasi, perjudian daring, penipuan, kecanduan, dan tekanan sosial.
Generasi yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mengonsumsi konten akan menjadi pasar. Generasi yang mencipta, menguasai data, dan membangun teknologi akan menentukan masa depan.
Merdeka untuk Berpendapat
Kemerdekaan tidak memiliki makna apabila masyarakat takut menyampaikan pendapat. Generasi muda berhak mengkritik kebijakan, melakukan penelitian, menulis, membuat karya, membentuk organisasi, dan melakukan demonstrasi damai.
Kritik bukan tanda kebencian terhadap negara. Kritik dapat menjadi bentuk kepedulian agar negara bekerja sesuai konstitusi dan kepentingan rakyat.
Namun, kebebasan juga membawa tanggung jawab. Kritik harus berdasarkan fakta. Kebebasan berpendapat tidak membenarkan fitnah, ancaman, perundungan, ujaran kebencian, penyebaran data pribadi, dan tuduhan tanpa bukti.
Generasi muda harus mampu membedakan kritik terhadap kebijakan dengan serangan terhadap martabat pribadi. Mereka perlu memeriksa sumber, memahami konteks, serta memberikan ruang bagi perbedaan pendapat.
Negara pun tidak boleh menjawab kritik dengan intimidasi, kekerasan, atau kriminalisasi. Aparat berkewajiban melindungi demonstrasi damai, kebebasan akademik, kerja jurnalistik, dan organisasi masyarakat.
Kampus harus menjadi ruang yang aman untuk berdebat. Perguruan tinggi tidak boleh hanya mengajarkan mahasiswa memperoleh pekerjaan, tetapi juga membentuk warga yang berani mempertanyakan ketidakadilan.
Merdeka berpendapat bukan hanya bebas berbicara. Kemerdekaan juga berarti memperoleh jaminan bahwa suara warga didengar dan dipertimbangkan.
Merdeka dari Korupsi
Korupsi merampas kemerdekaan secara perlahan. Uang pendidikan hilang, fasilitas kesehatan tidak selesai, jalan cepat rusak, bantuan tidak tepat sasaran, dan kesempatan kerja diperdagangkan.
Generasi muda sering diminta mencintai tanah air, tetapi pada saat yang sama menyaksikan pejabat memperkaya diri dari anggaran publik. Keteladanan yang buruk dapat menanamkan pandangan bahwa keberhasilan ditentukan oleh hubungan, uang, dan kemampuan memanipulasi aturan.
Kemerdekaan harus membuat kekuasaan tunduk kepada hukum. Tidak boleh ada pejabat yang kebal karena jabatan, kekayaan, partai, atau kedekatan dengan penguasa.
Pendidikan antikorupsi perlu dimulai dari tindakan sederhana. Mencontek, memalsukan presensi, membeli tugas, menyuap untuk memperoleh layanan, dan menggunakan fasilitas organisasi untuk kepentingan pribadi merupakan bibit penyalahgunaan kekuasaan.
Namun, pendidikan kejujuran tidak boleh dibebankan hanya kepada anak muda. Mereka akan sulit mempercayai nasihat apabila orang dewasa yang menyampaikannya justru melanggar.
Pejabat, dosen, guru, pemimpin perusahaan, dan orang tua harus menunjukkan bahwa integritas bukan sekadar materi pidato.
Merdeka dari korupsi berarti setiap rupiah milik rakyat digunakan untuk kepentingan rakyat.
Merdeka dari Diskriminasi dan Kekerasan
Kemerdekaan harus dapat dirasakan setiap orang. Anak muda tidak boleh kehilangan kesempatan karena suku, agama, jenis kelamin, kondisi fisik, latar belakang ekonomi, atau pilihan politik.
Perempuan muda harus aman belajar, bekerja, menggunakan transportasi, dan berpartisipasi dalam ruang digital. Penyandang disabilitas harus memperoleh akses terhadap pendidikan, teknologi, pekerjaan, dan pelayanan publik.
Kelompok minoritas harus dapat menjalankan keyakinan dan identitasnya tanpa ketakutan. Perbedaan pilihan politik tidak boleh memutus persaudaraan atau membenarkan kekerasan.
Perundungan di sekolah dan dunia digital juga merupakan bentuk penjajahan terhadap martabat manusia. Seorang anak yang hidup dalam ketakutan belum sepenuhnya merdeka meskipun negaranya telah lama merdeka.
Generasi muda perlu membangun pergaulan yang tidak hanya toleran, tetapi juga saling melindungi. Toleransi bukan sekadar membiarkan orang lain ada. Toleransi berarti mengakui bahwa orang lain memiliki hak dan martabat yang sama.
Kemerdekaan tidak hanya berarti bebas untuk diri sendiri. Kemerdekaan juga berarti menjaga kebebasan orang lain.
Merdeka dari Kerusakan Lingkungan
Generasi muda akan hidup paling lama dengan dampak keputusan lingkungan yang dibuat hari ini. Kerusakan hutan, pencemaran air, sampah plastik, polusi udara, dan perubahan iklim akan memengaruhi kesehatan, pekerjaan, pangan, energi, dan tempat tinggal mereka.
Karena itu, hak atas lingkungan yang baik merupakan bagian dari kemerdekaan. Anak muda tidak dapat disebut merdeka jika harus mewarisi sungai tercemar, kota yang tidak sehat, tanah rusak, dan bencana yang semakin sering.
Generasi muda memiliki hak menuntut kebijakan pembangunan berkelanjutan. Namun, mereka juga memiliki kewajiban mengubah pola konsumsi, mengurangi sampah, menggunakan energi secara efisien, menjaga lingkungan, dan mendukung produk yang bertanggung jawab.
Aktivisme lingkungan tidak boleh berhenti pada unggahan. Anak muda dapat melakukan pemetaan sampah, pemantauan kualitas air, rehabilitasi lingkungan, inovasi energi, pertanian berkelanjutan, serta pengawasan terhadap perizinan.
Merdeka berarti mampu memenuhi kebutuhan hari ini tanpa merampas kehidupan generasi berikutnya.
Merdeka dari Mentalitas Penonton
Salah satu ancaman terbesar bagi kemerdekaan adalah mentalitas penonton. Masyarakat mengeluhkan keadaan, tetapi menunggu orang lain memperbaikinya. Kritik disampaikan setiap hari, tetapi tidak diikuti tindakan.
Generasi muda harus berani menjadi pelaku. Mereka dapat memulai dari lingkungan terdekat: membantu anak belajar, membangun perpustakaan, mendampingi usaha kecil, mengawasi anggaran desa, membersihkan lingkungan, menanam pohon, membuat teknologi, atau menjadi relawan.
Tidak semua perjuangan harus berlangsung melalui demonstrasi besar. Perubahan juga dapat lahir dari kelompok kecil yang bekerja secara konsisten.
Seorang pemuda yang membantu warga memperoleh dokumen kependudukan sedang mengisi kemerdekaan. Mahasiswa yang melakukan penelitian untuk menyelesaikan persoalan desa sedang mengisi kemerdekaan. Pengusaha muda yang menciptakan pekerjaan layak sedang mengisi kemerdekaan.
Jurnalis muda yang memeriksa fakta, guru yang mendampingi murid, tenaga kesehatan yang melayani daerah terpencil, dan pengembang teknologi yang menjaga data masyarakat juga sedang melanjutkan perjuangan.
Kemerdekaan tidak hanya dipertahankan di medan perang. Hari ini, kemerdekaan dipertahankan melalui integritas, kompetensi, pelayanan, inovasi, dan keberanian membela kebenaran.
Upacara Harus Dilanjutkan dengan Tindakan
Upacara dan perlombaan tidak perlu ditinggalkan. Keduanya memiliki fungsi pendidikan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sejarah. Yang perlu diubah adalah menjadikan perayaan sebagai awal tindakan.
Setiap sekolah dapat menghubungkan peringatan kemerdekaan dengan proyek sosial. Murid dapat meneliti sejarah daerah, mendata anak putus sekolah, membersihkan lingkungan, membantu kelompok lanjut usia, atau membuat inovasi sederhana.
Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pengabdian masyarakat, klinik hukum, pendampingan usaha, pemeriksaan kesehatan, serta penelitian yang menjawab masalah daerah.
Pemerintah daerah dapat membuka forum aspirasi pemuda dan melaporkan bagaimana usulan mereka ditindaklanjuti. Perusahaan dapat membuka pelatihan, magang berkualitas, pembiayaan usaha, dan jalur karier bagi generasi muda.
Organisasi kepemudaan harus dinilai dari manfaatnya, bukan hanya banyaknya acara, spanduk, perjalanan, dan rapat. Dana kepemudaan harus menghasilkan peningkatan keterampilan, usaha baru, pekerjaan, inovasi, dan pelayanan masyarakat.
Perayaan kemerdekaan perlu meninggalkan jejak yang dapat diukur. Setelah Agustus berakhir, harus ada masalah yang berkurang, keterampilan yang bertambah, lingkungan yang membaik, atau warga yang terbantu.
Agenda Kemerdekaan Generasi Muda
Langkah pertama adalah menjamin pendidikan bermutu dan terjangkau. Tidak boleh ada anak muda yang berhenti belajar karena biaya, wilayah, disabilitas, atau keterbatasan fasilitas.
Kedua, pemerintah dan dunia usaha harus memperluas pekerjaan pertama, magang berbayar, pelatihan berbasis kebutuhan, dan pembiayaan usaha muda.
Ketiga, kebebasan akademik, kebebasan pers, organisasi, dan demonstrasi damai harus dilindungi. Kritik berbasis fakta harus dipandang sebagai mekanisme koreksi.
Keempat, literasi digital harus diperkuat. Generasi muda perlu menguasai keamanan siber, kecerdasan buatan, data, pemeriksaan fakta, perlindungan privasi, dan teknologi produktif.
Kelima, negara harus membuka proses kebijakan dan anggaran. Anak muda perlu memperoleh data yang dapat digunakan untuk mengawasi pembangunan.
Keenam, partai politik harus melakukan kaderisasi berdasarkan integritas dan kemampuan. Generasi muda tidak boleh sekadar menjadi pengelola media sosial atau alat mobilisasi suara.
Ketujuh, penegakan hukum harus adil. Status sosial, kekayaan, hubungan politik, dan jabatan tidak boleh menentukan perlakuan di hadapan hukum.
Kedelapan, pelayanan kesehatan mental harus diperluas. Tekanan pendidikan, pekerjaan, ekonomi, keluarga, serta media sosial membutuhkan dukungan yang mudah dijangkau tanpa stigma.
Kesembilan, generasi muda harus dilibatkan dalam kebijakan lingkungan, energi, teknologi, pendidikan, dan ketenagakerjaan karena merekalah yang paling lama menanggung akibatnya.
Kesepuluh, anak muda sendiri harus membangun disiplin, integritas, kemampuan, dan semangat belajar. Negara wajib membuka pintu, tetapi generasi muda harus mempersiapkan diri untuk memasukinya.
Kemerdekaan Harus Dirasakan
Kemerdekaan bukan sekadar kebebasan dari penjajahan asing. Kemerdekaan adalah kebebasan dari kebodohan, kemiskinan, pengangguran, ketakutan, diskriminasi, korupsi, kekerasan, dan ketergantungan.
Bendera Merah Putih bukan sekadar hiasan. Ia merupakan pengingat bahwa kemerdekaan diperoleh melalui pengorbanan dan harus diisi melalui tanggung jawab.
Generasi terdahulu berjuang agar bangsa ini memiliki negara sendiri. Tugas generasi muda adalah memastikan negara tersebut memberikan pendidikan, keadilan, pekerjaan, keamanan, dan kesempatan kepada seluruh rakyat.
Merdeka bukan berarti dapat melakukan apa saja tanpa batas. Merdeka berarti memiliki kemampuan menentukan masa depan sekaligus menghormati hak orang lain.
Karena itu, makna kemerdekaan bagi generasi muda tidak boleh berhenti pada berdiri tegak dalam upacara, mengikuti perlombaan, atau memasang bendera di media sosial. Kemerdekaan harus hadir dalam cara mereka belajar, bekerja, berbicara, menggunakan teknologi, menjaga lingkungan, serta melayani masyarakat.
Upacara berlangsung beberapa jam. Perlombaan selesai dalam satu hari. Namun, mengisi kemerdekaan merupakan pekerjaan setiap hari.
Generasi muda tidak hanya harus bertanya, “Apa yang telah diberikan negara kepada saya?” Mereka juga perlu bertanya, “Apa yang dapat saya perbaiki agar kemerdekaan dirasakan lebih banyak orang?”
Sebab, kemerdekaan baru memiliki arti ketika tidak hanya diperingati, tetapi diperjuangkan kembali dalam bentuk keadilan, pengetahuan, kesempatan, dan kehidupan yang bermartabat.
Jakarta, 17 Agustus 2026
Dr. Ir. Hendri, ST., MT
Wartawan Utama
Ketua Umum Jurnalis Nasional Indonesia (JNI)

Updates.